Ikhtisar:Bank Indonesia memperingatkan risiko inflasi dari lonjakan harga minyak dunia. Peringatan itu keluar saat rupiah sudah menyentuh Rp18.000 per dolar AS.

Harga minyak disebut menembus US$108 per barel. Belum ada kesepakatan soal pembukaan Selat Hormuz, dan itu yang membuat pasar gelisah.
Destry Damayanti dari Bank Indonesia menyebut kenaikan harga minyak sebagai salah satu kondisi global yang perlu diwaspadai, demikian dilaporkan Tirto.id.
Bagi trader, peringatan ini bukan wacana makro yang jauh dari layar. Tiga hal langsung terhubung ke posisi Anda: arah USD/IDR, biaya menginap atau swap, dan ekspektasi suku bunga.
Daftar isiRupiah Sentuh di Rp18.004, Yield SBN Naik 8,1 bps
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, merinci tekanan yang sedang bekerja. Mengutip Bloomberg pada Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 11.20 WIB, rupiah melemah 26 poin atau 0,14 persen ke Rp18.004 per dolar AS.
Inilah.com mencatat rupiah sempat menyentuh Rp18.000, lalu menguat tipis ke Rp17.959.
Tekanan datang dari beberapa arah. Erwin menyebut kekhawatiran atas berlanjutnya tekanan inflasi global dan risiko fiskal, sejalan dengan harga minyak di atas US$108 per barel. Ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS ikut mendorong yield US Treasury tenor 10 tahun naik ke 5,23 persen, level tertinggi sejak 2007.
Di pasar obligasi domestik, Bloomberg Technoz mencatat yield SBN tenor 10 tahun naik 8,1 basis poin ke 7,22 persen, tertinggi dalam enam pekan terakhir. Obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS, INDON, ikut melonjak: 6,7 bps ke 6,2 persen untuk tenor 10 tahun, dan 2,7 bps ke 5,65 persen untuk tenor 5 tahun.
Yang paling sensitif bagi pasar adalah CDS. Credit Default Swap INDON 5 tahun naik ke 92 pada Selasa (29/9/2026), dari sekitar 82 dua pekan sebelumnya. Kenaikan 10 bps dalam waktu sesingkat itu berarti pelaku pasar meminta kompensasi lebih tinggi untuk memegang risiko Indonesia.
Erwin menyebut dua pemicu lain di sisi domestik: kebutuhan valas importir menjelang akhir kuartal III, dan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi. Secara quarter-to-date, pelemahan rupiah masih terbatas 0,67 persen. Cadangan devisa tercatat naik ke US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026.
BI Sudah Kurangi Serapan SRBI dan Perluas Repo
BI tidak hanya bicara.
Tirto.id melaporkan BI mulai mengurangi penyerapan likuiditas lewat Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), instrumen yang dipakai untuk menyerap rupiah dari pasar, dan memperluas akses repo surat berharga.
Langkah itu melempar likuiditas kembali ke pasar. Efeknya ke trader cukup langsung: likuiditas yang lebih longgar cenderung menekan swap point dan menurunkan biaya menginap, tapi pada saat yang sama bisa melemahkan rupiah kalau arusnya tidak terkendali. Dua hal itu menarik ke arah berlawanan.
BI juga mendorong penguatan likuiditas mata uang selain dolar AS, khususnya yuan dan yen, menurut laporan Tirto.id. Tujuannya mengurangi ketergantungan pada greenback dalam transaksi dan pendanaan.
Erwin menyebut intervensi akan dilakukan lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Insentif untuk instrumen swap dan DNDF lindung nilai ke BI juga ditingkatkan, khususnya untuk pendanaan luar negeri.
Bagi Anda yang memakai forward atau swap untuk mengunci kurs, perubahan insentif ini menentukan harga lindung nilai yang Anda bayar. Kalau insentifnya naik, biaya hedging ke BI bisa lebih murah dibanding lewat pasar offshore.
Dari Minyak ke Posisi Anda: Rantai Sebab-Akibat
Rantainya lurus.
Harga minyak naik, biaya impor energi naik, tekanan inflasi naik. Inflasi yang tidak terkendali memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, dan itu menahan daya tarik aset berisiko termasuk obligasi negara berkembang.
Bagi Anda yang memegang posisi, ada tiga titik yang bergerak.
Pertama, USD/IDR. Selama tekanan eksternal belum reda, permintaan dolar dari importir di akhir kuartal dan arus keluar portofolio tetap ada. Intervensi BI bisa menahan laju, bukan membalik arah. Pergerakan rupiah disebut masih sejalan dengan mata uang kawasan.
Kedua, swap point dan biaya menginap. Likuiditas rupiah yang lebih longgar dari pengurangan serapan SRBI menekan swap point. Posisi beli USD/IDR yang dipegang lama bisa melihat biaya menginap berubah, tergantung bagaimana BI menyeimbangkan intervensi di pasar spot dengan pasokan likuiditas di pasar uang.
Ketiga, yield. Yield SBN 10 tahun di 7,22 persen dan CDS 5 tahun di 92 adalah dua angka yang paling cepat merespons risiko global. Kalau keduanya naik lagi, tekanan ke rupiah biasanya menyusul, dan spread antar bank untuk USD/IDR berpotensi melebar di sesi pembukaan.
Sinyal yang Masih Bertabrakan
Tidak semua indikator menunjuk arah yang sama.
Tirto.id melaporkan pagi ini rupiah justru menguat terhadap dolar AS, sementara IHSG dibuka melemah. Artinya tekanan di pasar valas dan tekanan di pasar ekuitas tidak selalu bergerak seiring, dan pembacaan satu sesi pagi tidak cukup untuk menyimpulkan arah sepekan.
Angka level pun berbeda antar laporan. Waspada.id mengutip Bloomberg mencatat Rp18.004, sementara Inilah.com menyebut rupiah sempat ke Rp18.000 lalu menguat tipis ke Rp17.959. Selisihnya kecil, tapi menunjukkan posisi rupiah masih bergerak di sekitar level itu, bukan stabil di satu titik.
Yang belum jelas: apakah kesepakatan pembukaan Selat Hormuz akan tercapai, dan seberapa lama harga minyak bertahan di atas US$108 per barel. Dua hal itu di luar kendali BI, dan keduanya yang menentukan apakah peringatan inflasi ini berlanjut jadi kenaikan suku bunga atau tidak.
Arahkita.com melaporkan mayoritas bank sentral Asia diperkirakan memilih sikap wait and see hingga akhir 2026, dengan India dan Filipina diproyeksi lebih ketat. Itu konteks regional, bukan pernyataan BI soal Indonesia.
Yang Perlu Anda Pantau
Peringatan BI ini belum menjadi perubahan kebijakan. Yang sudah terjadi: rupiah menyentuh Rp18.000, yield SBN 10 tahun di 7,22 persen, CDS 5 tahun di 92, dan BI mengurangi serapan SRBI sambil memperluas repo.
Untuk memverifikasi sendiri, jadwal Rapat Dewan Gubernur BI dan rilis data inflasi bulanan bisa dicek di bi.go.id. Data cadangan devisa juga dirilis rutin di situs yang sama, dan angka terakhir yang disebut BI adalah US$146,5 miliar per akhir Agustus 2026.
Kalau harga minyak bertahan di atas US$108 per barel dan yield US Treasury 10 tahun tidak turun dari 5,23 persen, tekanan ke rupiah berlanjut. Yang paling cepat terasa di posisi Anda adalah swap point dan biaya menginap, bukan level spot semata. Kalau sebaliknya, rupiah biasanya bergerak lebih dulu daripada yield obligasi.
Sumber
- Tirto.id — BI Waspadai Risiko Inflasi akibat Meroketnya Harga Minyak Dunia: https://tirto.id/bi-waspadai-risiko-inflasi-akibat-meroketnya-harga-minyak-dunia-hDkC
- Tirto.id — BI Kurangi Serapan SRBI dan Perluas Repo, Likuiditas Melonggar: https://tirto.id/bi-kurangi-serapan-srbi-dan-perluas-repo-likuiditas-melonggar-hDkL
- Tirto.id — Dolar AS Menguat, BI Dorong Penguatan Likuiditas Yuan dan Yen: https://tirto.id/dolar-as-menguat-bi-dorong-penguatan-likuiditas-yuan-dan-yen-hDk9
- Tirto.id — Rupiah Menguat dari Dolar AS, tapi IHSG Dibuka Melemah Hari Ini: https://tirto.id/rupiah-menguat-dari-dolar-as-tapi-ihsg-dibuka-melemah-hari-ini-hDnW
- Inilah.com — Rupiah Rontok Rp18.000/US$, Begini Penjelasan Bank Indonesia: https://www.inilah.com/rupiah-rontok-rp18000usdollar-begini-penjelasan-bank-indonesia
- Waspada.id — Rupiah Tembus Rp 18.000, BI Beri Tanggapan: https://www.waspada.id/artikel/rupiah-tembus-rp-18-000-bi-beri-tanggapan
- Bloomberg Technoz — Yield Obligasi RI Tenor 10 Tahun Naik, CDS Melejit: https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/123048/yield-obligasi-ri-tenor-10-tahun-naik-cds-melejit
- Arahkita.com — Bank Sentral Asia Pilih 'Wait and See', India dan Filipina Diproyeksi Lebih Ketat: https://www.arahkita.com/ekonomi/118121_bank-sentral-asia-pilih-wait-and-see-india-dan-filipina-diproyeksi-lebih-ketat