Ikhtisar:Rupiah melemah ke Rp18.001 per dolar AS pada perdagangan pagi Selasa (29/9/2026). Angka itu menembus ambang psikologis Rp18.000 yang sejak pekan lalu terus dibayangi pasar.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti membeberkan pemicunya. Bukan dari dalam negeri. Ia menyebut penguatan dolar Amerika Serikat, arus modal yang keluar dari negara berkembang, dan kebijakan moneter global yang masih ketat sebagai tiga penyebab utama.
“Kita menghadapi geopolitical conflict, kemudian juga tight global monetary policy. Jadi memang terjadi apa yang kita sebut sebagai flight to quality,” kata Destry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026), seperti dikutip Warta Ekonomi.
Bagi pemegang posisi USD/IDR, ini bukan sekadar berita makro. Pelemahan rupiah mengubah biaya swap point, menaikkan kebutuhan margin efektif, dan membuat bunga menginap di sisi jual rupiah jadi lebih mahal.
Daftar isiJISDOR Naik 230 Poin dalam Sepuluh Hari
Datanya cukup telak. JISDOR BI berada di Rp17.917 per dolar AS pada 25 September, naik dari Rp17.687 pada 15 September. Itu kenaikan 230 poin hanya dalam sepuluh hari.
Di pasar spot, CNBC Indonesia mencatat rupiah ditutup di Rp17.965 per dolar AS pada Senin (28/9/2026), terdepresiasi 0,53 persen. Posisinya hanya berjarak 35 poin dari Rp18.000. Sehari kemudian, Tirto.id mencatat rupiah melemah 0,13 persen lagi ke Rp18.001 pada perdagangan pagi.
Pasar saham bergerak searah. IHSG anjlok 1,51 persen atau 94 poin ke 6.147,86 pada penutupan 28 September. Keesokan paginya turun lagi ke 6.016,065. Dari 532 saham yang melemah hari itu, sektor konsumer non-primer, properti, dan teknologi mencatat koreksi paling dalam.
Pemicu eksternalnya terukur. Destry menyebut indeks dolar AS atau DXY berada di level 101,11, sementara indeks dolar terhadap mata uang Asia di 96,26. Inflasi global naik ke 4,6 persen. The Fed baru saja menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75–4,00 persen.
Harga minyak menambah tekanan. Destry menyebut harga minyak pada 24 September 2026 mencapai US$125,53 per barel. Rata-rata Agustus 2026 hanya sekitar US$90,88 per barel. Selisihnya hampir US$35 per barel dalam sebulan.
DPR Desak Rupiah Menguat, BI Menolak Menjanjikan Kurs
Tekanan politik ikut masuk ke ruang rapat. Wakil Ketua Komisi XI DPR Dolfie mendesak jajaran dewan gubernur BI memperkuat nilai tukar rupiah di bawah kepemimpinan Destry.
“APBN tetapkan Rp16.500/US$ jebol jadi US$$17.900 hari ini. 2027 di APBN kita sudah sepakati Rp17.500/U$$, ini akan enggak jelas kalau masih pakai teori volatilitas BI,” kata Dolfie, dikutip CNBC Indonesia.
Destry menjawab dengan angka, bukan janji. Ia menegaskan BI tidak bisa menetapkan arah kurs karena pergerakannya bergantung pada fundamental ekonomi, terutama neraca pembayaran dan neraca transaksi berjalan. Selama neraca itu defisit, arah penguatan tidak bisa dipastikan.
“Kalau defisit kan permintaan jauh lebih besar dari penawaran. Kalau defisitnya makin lebar, tentu kalau kita enggak mau melemah kita harus jor-joran melakukan kebijakan di situ, dan itu artinya tidak sesuai fundamental dan tidak akan sustain,” ujarnya.
Ia juga menyebut sejumlah variabel yang berada di luar kendali BI: harga minyak yang bisa menyentuh US$135 per barel, dan imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang saat itu di 5,4 persen.
Insentif Lindung Nilai, Bukan Kenaikan Suku Bunga Umum
BI memilih jalur lain ketimbang menaikkan suku bunga acuan. Destry menghitung kenaikan BI Rate 25 basis poin akan memangkas pertumbuhan ekonomi sekitar 0,1 persen. Angka itu yang membuat bank sentral menghindari langkah tersebut.
Sebagai gantinya, BI memberi insentif lindung nilai yang ditargetkan. Diskon premi Swap Beli Lindung Nilai dipotong 15 persen untuk tenor 3 bulan, 20 persen untuk tenor 6 bulan, dan 25 persen untuk tenor 12 bulan. Tahap awal berlaku untuk dolar AS dan renminbi China.
Untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Lindung Nilai kepada BI, premi dipotong 25 persen untuk tenor 6 bulan dan 30 persen untuk tenor 12 bulan. Transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra juga dapat insentif: tambahan premi Swap Beli Lindung Nilai 10 persen dan pengurangan premi DNDF Jual Lindung Nilai 10 persen.
Hasilnya mulai terlihat. Destry menyebut aliran masuk sekitar US$6 miliar melalui BNPF maupun swap dalam waktu kurang lebih satu bulan sejak insentif diberikan.
Dari sisi intervensi, porsinya bergeser. Kompas.com melaporkan porsi intervensi BI melalui pasar spot kini hanya sekitar 30 persen dari total intervensi. Artinya sebagian besar stabilisasi kini lewat instrumen lain, termasuk DNDF dan swap.
Angka Penutupan yang Tidak Sama di Berbagai Media
Ada satu hal yang perlu dicatat: angka kurs yang beredar tidak seragam.
Tribunnews melaporkan rupiah ditutup menguat 13 poin ke Rp17.902 per dolar AS, namun masih dibayangi ketegangan di Selat Hormuz dan ketidakpastian global. CNBC Indonesia mencatat penutupan 28 September di Rp17.965, terdepresiasi 0,53 persen. Tirto.id mencatat Rp18.001 pada 29 September pagi.
Ketiganya tidak bisa disandingkan langsung karena waktu pencatatan berbeda, dan tidak ada satu pun yang merinci jam pengambilan data. Yang jelas, rentang Rp17.902 sampai Rp18.001 menunjukkan rupiah bergerak di sekitar ambang Rp18.000, bukan menjauh darinya.
Selat Hormuz muncul sebagai variabel baru di laporan Tribunnews. Ini belum disebut dalam paparan Destry di rapat Komisi XI, yang hanya menyoroti harga minyak dan yield US Treasury. Belum ada konfirmasi resmi soal seberapa besar ketegangan itu memengaruhi arus valas domestik.
Yang Perlu Dipantau Pemegang Posisi USD/IDR
Ada beberapa titik yang bisa dipakai untuk mengukur arah biaya posisi, bukan untuk menentukan arah trading.
Pertama, proyeksi The Fed. BI memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada kuartal IV-2026. Jika itu terjadi, DXY berpotensi bergerak dari level 101,11 dan selisih bunga USD–IDR melebar. Bagi posisi beli USD/IDR, selisih bunga yang melebar umumnya menekan biaya menginap; bagi posisi jual USD/IDR, arahnya berlawanan.
Kedua, harga minyak. Destry menyebut ambang US$135 per barel sebagai salah satu risiko yang dipantau. Harga acuan terakhir yang disebut di rapat adalah US$125,53 per barel pada 24 September. Selama harga bertahan di atas rata-rata Agustus US$90,88, tekanan terhadap neraca transaksi berjalan belum hilang.
Ketiga, yield US Treasury tenor 10 tahun. Angka 5,4 persen yang disebut Destry adalah level yang ia jadikan patokan risiko. Yield yang bertahan di sekitar level itu membuat aset dolar tetap menarik dibanding surat berharga negara berkembang.
Keempat, JISDOR harian BI. Ini angka resmi yang dipakai untuk penyelesaian banyak kontrak dan perhitungan premi swap. Perubahan JISDOR dari Rp17.687 (15 September) ke Rp17.917 (25 September) menunjukkan kecepatan pergerakan yang perlu diperhitungkan saat menghitung ulang kebutuhan margin.
Kelima, porsi intervensi BI. Jika porsi intervensi spot terus turun dari 30 persen dan berpindah ke DNDF serta swap, likuiditas di pasar spot bisa menipis. Efeknya biasanya terasa di pelebaran spread dan pergeseran swap point, terutama untuk tenor pendek.
Belum ada jadwal resmi yang dipublikasikan untuk rilis data atau rapat berikutnya dalam materi yang tersedia. Yang bisa dipegang saat ini adalah proyeksi BI soal satu kenaikan The Fed lagi di kuartal IV-2026, dan ambang-ambang yang disebut Destry di rapat Komisi XI ---
Sumber
- Liputan6 (@liputan6dotcom), “Rupiah Melemah Lagi, Gubernur BI Beberkan Penyebabnya”: https://twitter.com/liputan6dotcom/status/2104484954994569447
- Warta Ekonomi, “Bos BI Buka-bukaan Penyebab Rupiah Melemah”: https://wartaekonomi.co.id/amp/read637387/bos-bi-buka-bukaan-penyebab-rupiah-melemah
- CNBC Indonesia, “DPR Ngotot Nilai Tukar Rupiah Harus Menguat, Gubernur BI Jawab Begini”: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260928152531-17-771502/dpr-ngotot-nilai-tukar-rupiah-harus-menguat-gubernur-bi-jawab-begini
- CNBC Indonesia, “IHSG Anjlok 1% dan Dolar AS Nyaris Rp 18.000, Ini Penyebabnya”: https://www.cnbcindonesia.com/market/20260928161806-17-771517/ihsg-anjlok-1-dan-dolar-as-nyaris-rp-18000-ini-penyebabnya
- Tirto.id, “Cek Kurs USD ke Rupiah 29 September: Melemah ke Rp18.001”: https://tirto.id/cek-kurs-usd-ke-rupiah-29-september-melemah-ke-rp18001-hDlL
- Kompas.com, “Rupiah Dekati Rp 18.000 per Dollar AS Lagi, Intervensi BI Turun Jadi 30 Persen”: https://money.kompas.com/read/2026/09/28/173901726/rupiah-dekati-rp-18000-per-dollar-as-lagi-intervensi-bi-turun-jadi-30-persen
- InvestorTrust, “BI Proyeksikan The Fed Naikkan Suku Bunga Lagi, Apa Dampaknya ke Rupiah?”: https://investortrust.id/macro/117694/bi-proyeksikan-the-fed-naikkan-suku-bunga-lagi-apa-dampaknya-ke-rupiah
- Tribunnews (@tribunnews): https://twitter.com/tribunnews/status/2104586175633858594
- CNBC Indonesia (@cnbcindonesia): https://twitter.com/cnbcindonesia/status/2104506903112118294
Artikel ini bersifat informatif dan tidak merupakan rekomendasi jual atau beli instrumen apa pun.