Ikhtisar:Rupiah bertahan di atas Rp18.000/US$ saat indeks dolar AS (DXY) menguat ke 101,802. Bank Indonesia menyoroti yield US Treasury di atas 5% dan rencana MSCI.

Rupiah masih bergerak di kisaran atas Rp18.000 per dolar Amerika Serikat, tertahan oleh penguatan mata uang Negeri Paman Sam yang belum surut.
Menurut CNBC Indonesia, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia, Firman Mochtar, menyebut penguatan dolar terjadi seiring imbal hasil (yield) US Treasury yang sudah tumbuh di atas 5%.
Bagi pembaca yang baru mengenal pasar valuta asing, yield US Treasury adalah tingkat bunga yang diterima investor dari surat utang pemerintah Amerika Serikat.
Ketika yield-nya tinggi, dana global cenderung berpindah ke aset berdenominasi dolar yang dianggap lebih aman dan memberi imbal hasil menarik.
Daftar isiImbal Hasil Tinggi Mengalihkan Minat Investor
Firman menjelaskan bahwa persepsi investor untuk berinvestasi di negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi berkurang. Akibatnya permintaan dolar Amerika Serikat meningkat dan indeks dolar AS ikut terus menguat.
“Dampaknya adalah DXY, indeks mata uang dolar terhadap negara maju sudah menguat. Kemarin sudah tercatat 101,” ujar Firman dalam taklimat media di Gedung BI, Jakarta, seperti dikutip Minggu (25/10/2026).
DXY adalah indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia. Pada pukul 09.00 WIB 25 Oktober 2026, indeks ini terpantau menguat 0,19% ke posisi 101,802.
Sebelumnya, pada 21 Oktober 2026 pukul 15.00 WIB, DXY berada di 101,744 atau menguat 0,04%.
“Kalau menguat tentunya mata uang negara berkembang akan menjadi lemah, termasuk Indonesia,” lanjut Firman.
Pernyataan itu menggambarkan pola yang lazim di pasar valuta asing: ketika dolar menguat secara luas, mata uang negara berkembang cenderung tertekan karena investor memilih aset yang dinilai lebih aman.
Data Refinitiv yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan rupiah ditutup menguat tipis 0,03% ke Rp18.040/US$ pada Jumat (23/10/2026), setelah sebelumnya melemah 0,25% pada penutupan Kamis (22/10/2026).
Pada Jumat siang, 23 Oktober 2026 pukul 12.30 WIB, rupiah sempat tercatat Rp18.079/US$$, melemah dari penutupan sehari sebelumnya di Rp18.045/U$$.
Sorotan MSCI Menambah Tekanan Domestik
Selain faktor global, Firman melihat pengumuman MSCI yang akan mendiskusikan pasar saham Indonesia untuk menjadi standalone market juga menekan rupiah.
“Jadi aliran modal keluar, tekanan global dan tekanan domestik. Yang secara umum memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Jadi itu yang terjadi,” ujarnya.
MSCI, lembaga penyusun indeks saham global, mengumumkan rencana mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market.
Rencana itu masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar, dan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. MSCI menyatakan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi.
MSCI menilai status Indonesia sebagai pasar berkembang tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saham domestik saat ini.
Penilaian itu didasarkan pada kekhawatiran pelaku pasar terhadap tingkat investabilitas saham Indonesia, termasuk transparansi struktur kepemilikan saham dan dugaan praktik perdagangan yang terkoordinasi.
Status standalone market menempatkan suatu negara di luar kelompok pasar maju, pasar berkembang, maupun pasar perintis. Saham dari negara berstatus ini tidak lagi tergabung dalam indeks global utama MSCI, seperti MSCI Emerging Markets Index atau MSCI Frontier Markets Index.
MSCI tetap dapat menghitung indeks saham negara tersebut secara individual, tetapi sahamnya tidak lagi menjadi bagian portofolio acuan standar bagi mayoritas manajer investasi global.
Menurut penjelasan MSCI, dampak dari status ini adalah hilangnya arus dana pasif. Investor institusional global yang mengacu pada indeks MSCI berpotensi menarik dana karena saham negara tersebut tidak lagi masuk kriteria portofolio utama mereka.
Berkurangnya keterlibatan investor asing juga dapat menekan likuiditas pasar dan pergerakan indeks saham domestik. Beberapa negara yang pernah atau sedang masuk kategori standalone market antara lain Argentina, Jamaika, Nigeria, dan Lebanon.
Bank Indonesia Menahan Suku Bunga Acuan
Tekanan terhadap rupiah menjadi perhatian bank sentral. Dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20-21 Oktober 2026, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75%.
Keputusan itu berbeda dari ekspektasi mayoritas responden polling CNBC Indonesia Research: dari 13 institusi keuangan yang disurvei, 10 memperkirakan BI menaikkan suku bunga 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%, sedangkan tiga lainnya memproyeksikan suku bunga tetap.
Meski menahan BI Rate, bank sentral menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5,00%, sementara Lending Facility tetap di 6,50%. Satu basis poin setara 0,01 poin persentase, sehingga kenaikan 25 bps berarti 0,25 poin persentase.
Deposit facility adalah fasilitas bagi bank untuk menempatkan dana berlebih di BI dalam jangka pendek, dan kenaikan bunganya membuat parkir dana di BI lebih menarik.
Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal, sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi dan inflasi domestik.
BI mencatat rupiah pada 20 Oktober 2026 berada di level Rp17.985/US$, melemah 0,61% secara point-to-point dibandingkan akhir September 2026.
Menurut Destry, pelemahan tersebut dipengaruhi eskalasi konflik di Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang semakin ketat, serta sentimen di pasar saham. Ia juga menyebut kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed cukup signifikan, tanpa menyebutkan waktunya.
Untuk menarik aliran modal asing sekaligus memperdalam pasar uang dan pasar valuta asing domestik, BI memperkuat insentif untuk menekan biaya lindung nilai (hedging), mengembangkan transaksi mata uang lokal (local currency transaction/LCT), serta mengoptimalkan instrumen swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
DNDF memungkinkan pelaku usaha mengunci kurs untuk transaksi masa depan di pasar domestik. Sejak Juni hingga 20 Oktober 2026, kebijakan insentif tersebut telah mendorong aliran modal masuk sebesar US$9,9 miliar.
“Ke depan, BI memperkirakan rupiah stabil didukung komitmen BI, yield menarik, inflasi dan prospek ekonomi baik,” tegas Destry dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (21/10/2026). Proyeksi itu disampaikan BI di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi.
Gambaran tekanan juga terlihat dari data lain.
Samuel Sekuritas mencatat defisit transaksi berjalan kuartal II 2026 sebesar US$12,49 miliar, yang menunjukkan ketergantungan pada pembiayaan asing. Inflasi indeks harga konsumen naik dari 2,88% pada Juli menjadi 3,19% pada Agustus dan 3,28% pada September 2026, menurut data yang dikutip Samuel Sekuritas dan Warta Ekonomi.
Harga pangan dan energi serta pelemahan rupiah menambah risiko pass-through, yaitu merembesnya kenaikan biaya impor ke harga domestik.
Samuel Sekuritas menilai kualitas pertumbuhan melemah menjelang semester II dengan daya beli rumah tangga yang lebih lembut, sementara BI memproyeksikan pertumbuhan 2026 di kisaran 4,9-5,7%.
Dalam penilaian lembaga tersebut, menaikkan suku bunga mendukung rupiah tetapi menambah beban kredit, sedangkan menahan suku bunga menjaga permintaan domestik tetapi mempersempit selisih yield dengan Amerika Serikat.
Di pasar saham, data IDX yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan investor asing mencatat penjualan bersih (net sell) sebesar Rp88,19 triliun sepanjang 2026. Angka ini memberi konteks mengapa perhatian pelaku pasar terbagi antara imbal hasil global yang tinggi dan isu klasifikasi indeks dari MSCI.
Bagi pelaku usaha, pergerakan kurs berdampak langsung. Sebagai ilustrasi, perusahaan yang membayar impor US$100.000 pada kurs Rp17.985 membutuhkan Rp1,7985 miliar.
Jika rupiah melemah ke Rp18.485, kebutuhan dana naik menjadi Rp1,8485 miliar, atau sekitar Rp50 juta lebih mahal untuk satu transaksi.
Angka ini hanya gambaran dan tidak mencerminkan data perusahaan tertentu. Perusahaan dengan utang berdenominasi dolar menghadapi efek serupa pada cicilan mereka dalam rupiah.

