Ikhtisar:IHSG ditutup menguat 0,29% ke level 5.943,02 pada Rabu (14/10/26), tetapi kenaikan itu hanya bertahan sebentar—indeks sempat menyentuh 6.009,96 sebelum kembali tertekan. Di saat yang sama, rupiah melemah hingga menyentuh level psikologis 18.000, dan data inflasi AS September yang lebih panas dari perkiraan menambah tekanan.

Daftar isiData Inflasi AS: 3,7% vs Ekspektasi 3,6%
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan CPI September naik 3,7% year-on-year, lebih tinggi dari konsensus pasar 3,6%. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,6%, didorong kenaikan harga energi—bensin naik 9,1% month-on-month, dan indeks energi keseluruhan naik 5,2%.
Angka ini memicu kekhawatiran bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Akibatnya, dolar AS menguat, dan aset berisiko di negara berkembang seperti Indonesia ikut tertekan.
Dampaknya langsung terasa di Wall Street. S&P 500 turun 1,11% ke 7.718,94, Nasdaq merosot 1,88% ke 26.692,87, dan Dow Jones melemah 48,62 poin atau 0,09% ke 51.621,48. Saham-saham teknologi dan AI menjadi yang paling tertekan.
Rupiah: Sempat Sentuh 18.000, Ditutup di 17.895
Rupiah melemah 0,06% ke Rp17.895/USD pada Rabu, setelah sempat menyentuh Rp17.915 di siang hari. Namun, analis mencatat rupiah sempat menyentuh level psikologis 18.000—meski tidak bertahan lama.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di Rp17.900/USD dan sempat menguat ke Rp17.870 sebelum kembali tertekan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di rentang Rp17.900–Rp17.950 pada Kamis. Untuk pekan ini, ia melihat rentang Rp17.780–Rp18.060.
VOI melaporkan support rupiah berada di Rp17.850 dan Rp17.800, sementara resistance di Rp17.950 dan Rp18.020–Rp18.050. Kurs referensi JISDOR Bank Indonesia mencatat rupiah di sekitar Rp17.884 per dolar AS pada awal pekan.
IHSG: Rebound Tipis, Tapi Belum Aman
IHSG menguat 17,04 poin (0,29%) ke 5.943,02 pada Rabu, setelah dua hari berturut-turut melemah. Penguatan ini didorong aksi bargain hunting—pembelian saham yang harganya dianggap murah setelah koreksi.
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menyebut penguatan terjadi setelah pelemahan dua sesi beruntun.
Namun, kenaikan itu tidak diikuti keyakinan investor asing. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan net sell asing mencapai Rp1,13 triliun pada Rabu, menurut CNBC Indonesia. Aktualita mencatat angka yang sedikit berbeda, sekitar Rp1,1 triliun.
Aktivitas perdagangan cukup ramai: volume mencapai 31,3 miliar saham dengan nilai transaksi Rp11,3 triliun. Sebanyak 280 saham menguat, 321 melemah, dan 194 stagnan. Sektor properti menjadi penopang utama dengan kenaikan 2,09%, disusul keuangan yang naik 0,7%.
Saham-saham seperti BBCA naik 2,94%, BRPT melonjak 9,16%, dan ASII, BELI, GOTO turut menopang indeks. Sebaliknya, tekanan datang dari VKTR, DSSA, BREN, BMRI, dan EMAS.
Arus Keluar Asing: Rp10,67 Triliun di September
Tekanan asing bukan hal baru. Sepanjang September, investor asing mencatat net sell saham Rp10,67 triliun—berbalik dari net buy Rp1,19 triliun pada Agustus, menurut riset Mirae Asset Sekuritas.
IHSG terkoreksi 7,0% month-on-month di September, seiring kenaikan yield AS dan penguatan dolar. Yield UST 10 tahun berada di sekitar 5,2%, dan DXY di sekitar 101,5. Harga minyak Brent naik sekitar 14,4% month-on-month hingga kembali di atas USD100/barel, meningkatkan kebutuhan valas dan risiko fiskal.
Mirae Asset mencatat BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% dan memperkuat intervensi spot, DNDF, dan NDF untuk membatasi volatilitas rupiah. Surplus perdagangan Agustus sebesar USD3,55 miliar, PMI manufaktur September di 52,4, dan inflasi domestik 3,28% YoY memberikan buffer.
Namun, defisit transaksi berjalan 2Q26 mencapai 3,3% PDB, dan surplus Januari-Agustus hanya USD7,25 miliar.
Sentimen Eksternal: FOMC 27–28 Oktober
Pasar menunggu pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Jika inflasi tetap tinggi, The Fed berpotensi menahan suku bunga lebih lama—atau bahkan mengetatkan kebijakan. Median proyeksi suku bunga akhir 2026 naik menjadi 4,1% dari 3,8%, menurut Mirae Asset.
Kondisi ini bisa memperkuat dolar AS lebih lanjut, menekan rupiah, dan memicu arus keluar asing dari pasar obligasi dan saham Indonesia. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun stagnan di 7,169% pada Rabu.
Prediksi Hari Ini: Konsolidasi di 5.800–6.020
VOI memperkirakan IHSG bergerak fluktuatif dengan kecenderungan konsolidasi pada Kamis. Rentang 5.800–6.020 menjadi acuan teknikal—bukan kepastian level tertinggi atau terendah.
Tim riset BRI Danareksa menilai IHSG masih berpotensi melemah selama belum mampu menembus level 6.000. “Area 5.900–5.850 menjadi support penting yang perlu dipertahankan,” kata tim tersebut, dikutip Katadata. Jika level ini ditembus, risiko pelemahan lanjutan perlu diwaspadai.
Analis BinaArtha Sekuritas, Ivan Rosanova, memperkirakan support IHSG berada di 5.768, 5.607, dan 5.521, sementara resistance di 6.128, 6.273, 6.423, dan 6.552. Ia menilai level 6.014 masih cukup kuat sebagai resisten.
Sementara itu, MNC Sekuritas memperkirakan IHSG rawan terkoreksi ke 5.744. Emitennews.com justru melihat potensi rebound dengan support 5.860–5.795 dan resistance 5.990–6.060.
Analis akun X @saptaipb (48.666 pengikut) memprediksi IHSG akan kembali merah pada Kamis (15/10). Menurutnya, tekanan jual masih terasa di sore hari, dan arus keluar asing dari pasar saham Indonesia belum berhenti. Analis @saptaipb lebih pesimistis: “Saya prediksi hari ini merah. Gak terlalu nyaman buat trading.”
Yang Perlu Dicermati: Level 18.000 dan FOMC
Bagi trader rupiah, level 18.000 adalah garis psikologis. Jika dolar AS terus menguat pasca-data inflasi, rupiah berisiko menguji level tersebut lagi—dan tembusnya bisa memicu volatilitas lebih tinggi. Rentang perdagangan yang diprediksi Ibrahim Assuaibi (Rp17.900–Rp17.950) menunjukkan pelemahan masih berlanjut.
Bagi trader saham, perhatikan net sell asing harian. Selama asing masih keluar, rebound IHSG cenderung bersifat teknikal dan rapuh. Data Bursa Efek Indonesia bisa dicek untuk memantau arus dana asing.
Pertemuan FOMC pada 27–28 Oktober adalah katalis berikutnya. Sebelum itu, data ekonomi AS tambahan bisa menggerakkan pasar lebih dulu. Perhatikan juga pergerakan yield UST 10 tahun dan DXY sebagai indikator awal.

