Ikhtisar:Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan penghimpunan dana di pasar modal Indonesia mencapai Rp 169,5 triliun dari 148 emisi sepanjang Januari hingga September 2026.

Laporan finance.detik.com yang mengutip paparan OJK pada Jumat (2/10/2026) juga mencatat jumlah investor pasar modal kini 32,17 juta Single Investor Identification (SID), bertambah lebih dari 12 juta dalam setahun atau setara 57,96 persen.
Daftar isiPenghimpunan Dana dan Antrean Emisi
Angka Rp 169,5 triliun itu disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, dalam sambutannya di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Menurut OJK, capaian tersebut menunjukkan pasar modal masih menjadi salah satu pilihan perusahaan untuk memperoleh sumber pembiayaan.
Hasan menyebut masih ada sejumlah perusahaan yang mengantre melakukan penawaran umum. Nilai emisi dari antrean atau pipeline tersebut mencapai Rp 27,61 triliun.
“Di dalam pipeline, di tempat kami (OJK) dan di tempat Pak Jeffrey (Direktur Utama Bursa Efek Indonesia) di Bursa, masih ada permintaan untuk fundraising sebesar Rp 27,61 triliun,” ujarnya.
Bagi pembaca yang baru mengenal pasar, penawaran umum adalah proses perusahaan menjual saham atau surat utang baru kepada publik untuk mengumpulkan dana.
Pipeline emisi menggambarkan rencana penawaran yang sudah masuk ke OJK dan bursa, tetapi belum tentu semuanya terealisasi pada periode berjalan.
Karena itu, angka Rp 27,61 triliun lebih tepat dibaca sebagai potensi yang masih menunggu proses, bukan tambahan dana yang sudah pasti masuk ke pasar.
Dalam kerangka pasar keuangan, penghimpunan dana lewat pasar modal menjadi alternatif pembiayaan selain kredit perbankan.
Perusahaan yang menerbitkan saham baru atau surat utang mendapatkan dana dari investor, sementara investor memperoleh kepemilikan atau imbal hasil sesuai instrumen yang dipilih.
OJK tidak merinci berapa bagian dari 148 emisi yang berupa penawaran saham perdana dan berapa yang berupa surat utang dalam materi yang tersedia.
Investor Ritel Domestik Bertambah 12 Juta
Dari sisi permintaan, OJK menilai minat investasi di pasar modal masih kuat meski sepanjang tahun ini pasar menghadapi berbagai dinamika dan tekanan. Indikasinya terutama terlihat pada pertumbuhan jumlah investor ritel domestik.
Setelah menembus 20 juta investor pada akhir tahun lalu, jumlah investor pasar modal kini mencapai 32,17 juta SID. Artinya, jumlah investor bertambah lebih dari 12 juta dalam setahun.
“Kenaikan yang sangat impresif, dalam setahun naik lebih dari 12 juta dan ini belum sampai ke akhir tahun atau sampai saat ini sudah naik di angka 57,96%,” jelas Hasan.
SID adalah nomor identitas tunggal yang diberikan kepada setiap investor di pasar modal Indonesia. Satu orang investor hanya memiliki satu SID, sehingga angka ini dipakai sebagai ukuran jumlah individu yang terdaftar, bukan jumlah rekening efek atau nilai dana yang mereka tempatkan.
Pembaca yang terbiasa memantau valuta asing perlu mencatat perbedaan ini: pertumbuhan basis investor tidak otomatis berarti bertambahnya nilai transaksi harian atau kenaikan indeks harga saham.
OJK tidak menyebutkan komposisi investor ritel dibandingkan investor institusi, sebaran usia atau domisili investor, maupun nilai transaksi harian pasar saham dalam paparan yang dikutip tersebut.
Karena itu, angka 32,17 juta SID paling aman dibaca sebagai ukuran luasnya partisipasi individu yang terdaftar, bukan sebagai gambaran besar kecilnya dana yang aktif diperdagangkan.
Derivatif dan Bursa Karbon
OJK juga memaparkan perkembangan di sektor keuangan derivatif. Sebanyak 113 pihak telah memperoleh persetujuan prinsip, sementara volume transaksi tercatat 379.443 lot sepanjang tahun ini.
Persetujuan prinsip adalah izin awal sebelum sebuah pihak dapat menjalankan kegiatan usaha secara penuh di sektor tersebut. Materi yang tersedia tidak menjelaskan siapa saja 113 pihak itu atau kegiatan usaha apa yang mereka rencanakan.
Di bursa karbon, OJK mencatat 160 pengguna jasa telah terdaftar. Volume transaksi mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen dengan akumulasi nilai transaksi Rp 93,97 miliar.
Bursa karbon adalah tempat memperdagangkan unit karbon, yaitu instrumen yang mewakili pengurangan atau penyerapan emisi gas rumah kaca. Satuan CO2 ekuivalen dipakai untuk menyetarakan berbagai jenis gas rumah kaca ke dalam satu ukuran, sehingga volume perdagangan dapat dibandingkan secara seragam.
“Kami juga menyediakan sarana di sektor keuangan derivatif dan juga Bursa Karbon yang juga tercatat terjaga dengan baik aktivitasnya di tahun ini,” pungkas Hasan.
Pernyataan itu disampaikan dalam sambutan di Bursa Efek Indonesia, bukan dalam dokumen terpisah, sehingga konteksnya adalah pemaparan capaian OJK atas pengawasan pasar modal, derivatif, dan bursa karbon.
Catatan atas Data yang Belum Tersedia
Materi yang tersedia belum memuat sejumlah rincian yang biasanya melengkapi gambaran pasar modal.
Tidak ada perbandingan angka penghimpunan dana Rp 169,5 triliun dengan periode yang sama tahun sebelumnya, tidak ada pemisahan jumlah emiten baru atau penawaran saham perdana dari total 148 emisi, dan tidak ada penjelasan rinci mengenai 113 pihak yang memperoleh persetujuan prinsip di sektor derivatif.
Selain itu, belum ada data komposisi investor ritel versus institusi, sebaran demografi investor, nilai transaksi harian pasar saham, maupun konteks pergerakan indeks pasar saham selama Januari hingga September 2026.
Karena itu, artikel ini tidak memuat perbandingan tahunan, proyeksi, atau kesimpulan mengenai arah pasar yang tidak didukung sumber.
Seluruh angka dalam artikel ini berasal dari paparan OJK yang dikutip finance.detik.com dan tetap diatribusikan kepada OJK sebagai pihak yang menyampaikan data.