简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Rilis CPI AS Agustus, Kenaikan Suku Bunga Hampir Menjadi Konsensus Pasar
Ikhtisar:【Grafik 1: Data CPI AS Bulan Agustus | Sumber: ZeroHedge】CPI AS Agustus Dirilis, Tekanan Inflasi Masih BerlanjutPada Jumat lalu (11), data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Agustus yang sangat dina

【Grafik 1: Data CPI AS Bulan Agustus | Sumber: ZeroHedge】CPI AS Agustus Dirilis, Tekanan Inflasi Masih Berlanjut
Pada Jumat lalu (11), data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Agustus yang sangat dinantikan pasar akhirnya dirilis. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS), CPI AS bulan Agustus, sebagaimana ditunjukkan pada Grafik 1, naik sebesar 3,4% secara tahunan (YoY), sesuai dengan ekspektasi pasar.
Namun, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan. Seperti yang telah kami sampaikan pekan lalu, pasar sebelumnya memperkirakan CPI inti AS bulan Agustus akan naik 0,2% secara bulanan (MoM). Apabila angka aktual berada di atas 0,2%, hal tersebut berpotensi kembali memicu kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan meningkatkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) untuk menaikkan suku bunga.
Seperti terlihat pada Grafik 2, CPI inti AS bulan Agustus naik 0,29% secara bulanan, lebih tinggi dari ekspektasi. Namun, secara tahunan, pertumbuhannya justru turun dari 2,5% menjadi 2,446%.
Kondisi ini mencerminkan fenomena “tekanan meningkat dalam jangka pendek, tetapi mereda dalam jangka panjang.” Dengan kata lain, meskipun tren inflasi jangka panjang mulai menunjukkan stabilisasi sebagaimana yang diharapkan The Fed, tekanan harga dalam jangka pendek masih tetap bertahan.

【Grafik 2: Data CPI Inti AS Bulan Agustus | Sumber: ZeroHedge】Probabilitas Kenaikan Suku Bunga Mendekati 90%, Arah Pasar Semakin Jelas
Setelah pasar mencermati data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls (NFP) dan kini memperoleh data CPI AS bulan Agustus, secara keseluruhan kekhawatiran terhadap inflasi masih belum sepenuhnya mereda.
Berdasarkan probabilitas kenaikan suku bunga AS untuk pertemuan September yang dirilis CME hari ini (14), sebagaimana ditunjukkan pada Grafik 3, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September kini mencapai 86,2%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan 60% dan 72,4% pada pekan lalu.
Dengan probabilitas yang telah mendekati 90%, pasar semakin memperkirakan bahwa kenaikan suku bunga pada pertemuan FOMC berikutnya hampir menjadi skenario dasar.
Dari sisi geopolitik, konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih terus berlangsung. Berdasarkan perkembangan terbaru, AS secara terbuka mengakui bahwa Iran telah melancarkan serangan udara terhadap pangkalan militer AS di Yordania dan Bahrain.
Pada saat yang sama, dari sisi ekonomi, Departemen Keuangan AS meluncurkan Operation Economic Outcast, sebuah langkah yang menargetkan dan mengidentifikasi pihak-pihak yang secara diam-diam membantu aktivitas perdagangan Iran. Serangkaian sanksi ekonomi tersebut bertujuan membatasi potensi dukungan ekonomi yang dapat diterima Iran di kemudian hari, sekaligus semakin melemahkan kemampuan militernya.
Sementara itu, Presiden Trump baru-baru ini menyampaikan pandangannya mengenai kebijakan kenaikan suku bunga The Fed serta rencana militer AS terhadap Iran.
Trump menyatakan bahwa suku bunga AS seharusnya menjadi yang terendah di dunia, dengan tujuan mencegah Amerika Serikat mengalami defisit perdagangan terhadap negara lain. Sebagai presiden dengan latar belakang pengusaha, pandangannya mengenai kebijakan tersebut tetap sangat berorientasi pada kepentingan pasar keuangan dan perdagangan.
Terkait perkembangan perang dengan Iran, Trump mengatakan bahwa menurut perkiraannya, konflik antara AS dan Iran kemungkinan besar akan berakhir sekitar periode pemilu paruh waktu AS. Ia juga menegaskan bahwa dirinya memahami dengan jelas rencana yang akan dijalankan.
Namun, rekam jejak Trump yang sebelumnya kerap dikaitkan pasar dengan fenomena TACO (Trump Always Chickens Out) membuat pelaku pasar tidak sepenuhnya menaruh keyakinan besar terhadap pernyataan terbarunya.

【Grafik 3: Probabilitas Kenaikan Suku Bunga AS pada Pertemuan September | Sumber: CME】
Harga Minyak Bertahan Tinggi, Dampak Geopolitik terhadap Inflasi Semakin Terlihat
Pergerakan harga minyak terbaru juga mencerminkan dampak ketegangan geopolitik terhadap pasar.
Seperti terlihat pada Grafik 4, harga minyak mentah internasional masih bertahan di atas US$100 per barel dan saat ini berada di kisaran US$108 per barel.
Setelah bangkit dari level terendah sekitar US$70 per barel pada pertengahan tahun, harga minyak kini kembali berada di zona yang relatif tinggi. Pergerakan tersebut secara jelas mencerminkan bagaimana meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran telah diterjemahkan pasar ke dalam kenaikan harga energi.
Dengan harga minyak yang tetap berada di level tinggi, tekanan dari sektor energi juga berpotensi menjadi salah satu faktor yang membuat proses penurunan inflasi AS menjadi lebih sulit dalam jangka pendek.

【Grafik 4: UKOIL | Sumber: WantGoo】
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.










