简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Militer AS Serang Target Iran, Harga Minyak Melonjak
Ikhtisar:Pada siang hari 1 September, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), memicu lonjakan harga minyak dan kembali meningkatkan ekspektasi infla
Pada siang hari 1 September, militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), memicu lonjakan harga minyak dan kembali meningkatkan ekspektasi inflasi. Kenaikan harga minyak mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor panjang lebih tinggi, yang pada gilirannya menekan valuasi saham AS. Emas dan Bitcoin juga melemah seiring kenaikan suku bunga riil. Di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran, tiga indeks utama Wall Street mencatat penurunan selama tiga sesi berturut-turut, dengan Nasdaq turun 1%.
Harga penyelesaian minyak mentah WTI melonjak 5,2% menjadi US$90,22 per barel, mencatat penutupan tertinggi sejak 23 Juli. Sementara itu, Brent naik 4,6% menjadi US$94,65 per barel. Reaksi pasar produk minyak olahan bahkan lebih tajam dibandingkan pasar minyak mentah. Selisih harga antara kontrak berjangka heating oil AS dan minyak mentah melonjak hingga lebih dari US$106 per barel, mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah, sementara harga diesel ritel mendekati US$5,63 per galon. Ekspor produk minyak olahan global turun 6 juta barel per hari secara tahunan, atau sekitar 25%, dengan kawasan Teluk Persia dan Rusia menyumbang sekitar 75% dari total penurunan tersebut.
Saham sektor energi menjadi salah satu dari sedikit sektor yang menguat, sementara saham transportasi merosot ke level terendah sejak Mei. ETF sektor energi naik 1,27%, dengan saham perusahaan minyak besar seperti ExxonMobil dan Chevron mencatat kenaikan. Sebaliknya, Dow Jones Transportation Average turun 2,51% dan ditutup pada level terendah sejak Mei. Rekor kenaikan crack spread diesel secara langsung meningkatkan biaya angkutan dan logistik.
Kenaikan suku bunga pertama-tama menghantam aset dengan durasi paling panjang, sehingga saham AI dan perangkat lunak berada di garis depan tekanan jual. ETF semikonduktor turun 2,05% dan ditutup pada level terendah dalam satu bulan, sedangkan ETF perangkat lunak anjlok 3,46%. Goldman Sachs US Broad AI Index melemah 1,92%. Perusahaan seperti Oracle dan Dell menghadapi tekanan lebih besar karena belanja modal yang tinggi dan arus kas bebas yang negatif. Di sisi lain, saham Apple naik 2,61% pada hari pertama pergantian pucuk pimpinan, sementara Amazon melemah setelah Federal Trade Commission (FTC) bersama 22 negara bagian mengajukan gugatan terhadap perusahaan tersebut.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menembus 3% untuk pertama kalinya dalam tiga dekade. Imbal hasil obligasi tenor panjang Jerman, Prancis, dan Inggris juga secara bersamaan mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik menjadi 4,792%, level tertinggi sejak Januari 2025, sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun sempat menyentuh 5,286% dalam perdagangan intraday, tertinggi sejak Juni 2007. Pasar opsi mulai mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut. Indeks Manufaktur ISM AS untuk Agustus tercatat sedikit di bawah ekspektasi, tetapi indeks harga yang dibayar (Prices Paid Index) tetap berada di level tinggi, menunjukkan bahwa tekanan biaya belum mereda.
Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,27% menjadi 99,63. Harga emas turun 2,71% menjadi US$4.328,49 per ons, kembali berada di bawah level US$4.400. Sementara itu, suku bunga riil AS tenor 10 tahun naik menjadi 2,4320%, sehingga meningkatkan opportunity cost untuk memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas. Bitcoin turut melemah 1,48%.
Serangan militer AS terhadap target Iran kembali meningkatkan premi risiko geopolitik. Lonjakan tajam pada harga minyak mentah dan produk minyak olahan mendorong ekspektasi inflasi serta imbal hasil obligasi tenor panjang lebih tinggi, yang kemudian menekan valuasi saham AS. Divergensi antarsektor terlihat semakin jelas: saham energi diuntungkan, sementara sektor transportasi dan teknologi berada di bawah tekanan.
Gelombang aksi jual obligasi pemerintah global dan meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga menunjukkan bahwa kombinasi tekanan fiskal dan inflasi masih menjadi faktor utama dalam pembentukan harga aset. Dalam jangka pendek, perkembangan hubungan AS-Iran serta pergerakan harga minyak akan terus memengaruhi sentimen pasar. Dalam jangka menengah hingga panjang, keseimbangan antara kelangkaan produk minyak olahan, meningkatnya biaya pembiayaan utang, dan arah kebijakan Federal Reserve tetap menjadi sumber ketidakpastian utama. Investor perlu mewaspadai dampak ganda dari eskalasi geopolitik terhadap inflasi dan valuasi aset.
Peringatan Risiko: Pandangan, analisis, riset, harga, maupun informasi lainnya di atas hanya disediakan sebagai komentar pasar secara umum dan tidak mencerminkan posisi platform ini. Setiap pihak yang mengakses informasi ini bertanggung jawab sepenuhnya atas segala risiko yang timbul. Harap melakukan transaksi dengan hati-hati.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.










