简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Harga Emas Jatuh di Bawah US$4.600, Pasar Soroti Suku Bunga The Fed dan Inflasi
Ikhtisar:Pada 26 Agustus, harga emas spot ditutup di US$4.591, turun sekitar 1,5% dan menembus level US$4.600 setelah sebelumnya menguat selama empat sesi berturut-turut.Menariknya, Indeks Dolar AS hanya naik
Pada 26 Agustus, harga emas spot ditutup di US$4.591, turun sekitar 1,5% dan menembus level US$4.600 setelah sebelumnya menguat selama empat sesi berturut-turut.
Menariknya, Indeks Dolar AS hanya naik 0,25%, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun bertambah sekitar 2 basis poin. Artinya, pelemahan emas kali ini bukan terutama dipicu oleh lonjakan dolar atau imbal hasil obligasi, melainkan perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed pada September.
Sebulan lalu, probabilitas kenaikan suku bunga September sempat mendekati 75%. Namun hingga 18 Agustus, probabilitas tersirat dari pasar futures suku bunga turun drastis menjadi sekitar 35%.
Probabilitas tersebut mencerminkan ekspektasi pasar berdasarkan harga futures suku bunga, bukan pernyataan langsung pejabat The Fed.
Sebuah laporan riset pada 20 Agustus menilai pasar mungkin terlalu meremehkan risiko kenaikan suku bunga. Data inflasi, harga produsen, dan ketenagakerjaan dinilai belum cukup mendukung penurunan ekspektasi sebesar itu. Laporan tersebut juga memperkirakan PCE inti Juli naik 0,28% secara bulanan dan menilai angka di atas 0,25% dapat kembali mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga.
Data aktual pada 26 Agustus memberikan sinyal yang beragam. PCE utama Juli naik 3,7% secara tahunan dan 0,2% secara bulanan. PCE inti naik 3,3% secara tahunan, sesuai ekspektasi, sementara secara bulanan meningkat 0,2%, lebih rendah dari perkiraan 0,28%.
Di sisi lain, pesanan barang tahan lama Juli tumbuh 1,1%, melampaui ekspektasi 0,5%. Namun, konsumsi pribadi riil secara bulanan tidak mengalami pertumbuhan.
Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi dan ketahanan ekonomi AS masih bertahan, tetapi momentum konsumsi mulai melemah. Setelah rilis data, probabilitas kenaikan suku bunga September kembali naik menjadi sekitar 42%, berada di antara level terendah 35% dan puncak sebelumnya sekitar 75%.
Dari sisi suku bunga riil, tekanan terhadap emas sebenarnya belum meningkat secara signifikan. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun naik ke sekitar 4,66%, tetapi hanya bertambah 2 basis poin. Sementara itu, ekspektasi inflasi rata-rata lima tahun meningkat dari 2,16% pada 28 Juli menjadi 2,31% pada 25 Agustus.
Kenaikan ekspektasi inflasi tersebut mengimbangi sebagian dampak kenaikan suku bunga nominal. Dengan demikian, biaya riil memegang emas belum meningkat tajam. Pelemahan emas saat ini lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga September daripada perubahan fundamental pada tren suku bunga riil.
Untuk prospek jangka menengah dan panjang, inflasi kemungkinan menjadi faktor yang lebih penting dibandingkan perubahan probabilitas kenaikan suku bunga dalam jangka pendek.
PCE inti Juli tercatat 3,3% secara tahunan. Indikator ini sempat turun menjadi 2,6% pada Maret 2025 sebelum kembali naik hingga 3,4%, dan hingga kini masih berada jauh di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar 2%.
Sejak Maret 2021, PCE inti telah berada di atas 2% selama 65 bulan berturut-turut, atau sekitar lima tahun lima bulan.
Bagi emas, persoalan utamanya bukan hanya apakah The Fed akan menaikkan suku bunga, tetapi apakah inflasi benar-benar dapat turun secara berkelanjutan. Jika suku bunga nominal naik sementara inflasi tetap tinggi, ruang kenaikan suku bunga riil akan terbatas. Sebaliknya, jika suku bunga tetap tinggi dan inflasi inti terus turun menuju 2%, biaya peluang memegang emas akan meningkat.
Pasar saat ini pada dasarnya memperdagangkan dua faktor dengan horizon berbeda: ekspektasi kenaikan suku bunga September yang dapat berubah dalam hitungan minggu, serta tren inflasi inti yang telah berlangsung lebih dari lima tahun.
Dalam jangka pendek, harga emas masih berpotensi berfluktuasi mengikuti perubahan probabilitas kenaikan suku bunga, terutama jika bergerak dari kisaran 30% hingga di atas 50%. Untuk jangka menengah dan panjang, fokus utama adalah apakah PCE inti mampu membentuk tren penurunan yang konsisten.
Selanjutnya, investor akan mencermati simposium Jackson Hole pada 27–29 Agustus, pernyataan Ketua The Fed Warsh, serta kemungkinan sinyal mengenai koordinasi kebijakan fiskal dan moneter AS. Probabilitas kenaikan suku bunga September, ekspektasi inflasi lima tahun di sekitar 2,31%, dan arah PCE inti dari level 3,3% akan menjadi faktor penting bagi prospek harga emas.
Peringatan Risiko: Informasi ini hanya merupakan informasi pasar umum dan analisis kondisi pasar, bukan saran investasi. Pasar keuangan memiliki volatilitas tinggi. Investor perlu mempertimbangkan profil dan toleransi risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.










