简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Prospek Perundingan AS–Iran Memburuk, Harga Minyak Melonjak Tajam
Ikhtisar:【Gambar 1: Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran】Prospek perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali dibayangi ketidakpastian. Harga minyak melonjak tajam, memicu kembali kekhawatiran terhadap in
【Gambar 1: Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran】
Prospek perundingan antara Amerika Serikat dan Iran kembali dibayangi ketidakpastian. Harga minyak melonjak tajam, memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga membatasi penguatan pasar saham AS dan mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS naik secara menyeluruh. Pada Senin, seiring perundingan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz menemui jalan buntu, harga minyak mentah Brent menembus US$87 per barel, sementara minyak mentah WTI melonjak lebih dari 5% dalam sehari. Kenaikan tajam harga energi kembali memicu kekhawatiran pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) dapat menaikkan suku bunga tahun ini. Pada saat yang sama, keraguan terhadap skema “circular financing” Nvidia turut menekan sektor teknologi, menyebabkan tiga indeks utama Wall Street ditutup sedikit melemah.
Trump secara terbuka mengkritik tuntutan kompensasi perang yang diajukan Iran dalam perundingan. Pernyataan tersebut dengan cepat meredam optimisme pasar sebelumnya bahwa kedua pihak dapat segera mencapai kesepakatan dan membuka kembali jalur perairan strategis tersebut. Pada hari yang sama, Iran juga secara berturut-turut memberikan sinyal bahwa negara tersebut tengah memperkuat sistem keamanan dan politiknya. Analis Interactive Brokers, Jose Torres, mengatakan bahwa kebuntuan dalam perundingan antarpemerintah mulai menimbulkan kegelisahan di kalangan pelaku pasar Wall Street.
Situasi di Selat Hormuz masih berada dalam kebuntuan. Kontrak berjangka utama minyak mentah WTI kembali menembus level US$82 per barel sekaligus melampaui resistance teknikal penting pada moving average 50 hari. Harga produk minyak olahan juga naik secara luas, dengan kontrak berjangka diesel Eropa melonjak lebih dari 10%. Cadangan Minyak Strategis AS (Strategic Petroleum Reserve/SPR) telah turun ke level terendah sejak 1983 dan semakin mendekati batas minimum operasional. Sementara itu, tingkat penyimpanan gas alam Eropa hanya sedikit di bawah 59%, jauh di bawah rata-rata lima tahun. Dengan semakin sempitnya periode pengisian kembali stok menjelang musim dingin, kontrak berjangka acuan gas alam sempat melonjak lebih dari 10%.
Pada perdagangan Senin, tiga indeks utama saham AS ditutup sedikit melemah, dengan sektor semikonduktor berada di bawah tekanan. Nvidia tengah berupaya menggandeng sejumlah raksasa Wall Street untuk menghimpun pendanaan hingga US$500 miliar bagi proyek-proyek infrastruktur AI. Setelah kabar tersebut diumumkan, saham Nvidia turun 2,9%. Sebagian investor khawatir bahwa kesepakatan Nvidia dengan berbagai pihak dalam ekosistem AI dapat mendorong permintaan dan valuasi secara artifisial, sehingga membentuk struktur “circular financing” dan memunculkan keraguan mengenai seberapa riil permintaan tersebut. Philadelphia Semiconductor Index ditutup turun 2,94%.
Lonjakan cepat harga energi membuat pasar kembali mengevaluasi arah kebijakan The Fed. Data Nonfarm Payrolls (NFP) AS untuk Juli yang dirilis Jumat lalu secara mengejutkan menunjukkan penurunan 23.000 lapangan kerja. Data tersebut sempat menurunkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September. Namun, rebound harga minyak kemudian mengikis dampak “dovish” dari data ketenagakerjaan tersebut. Saat ini, pasar memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada September berada di kisaran 54%. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 6 basis poin dalam sehari menjadi 4,70%.
Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk Juli akan dirilis pada Rabu pekan ini dan diperkirakan naik 0,1% secara bulanan. Apabila data inflasi tidak berada di bawah ekspektasi, kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga berpotensi meningkat ke level baru. Di tengah tekanan tersebut, harga emas justru menguat hingga menembus US$4.350, menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset safe haven masih tetap kuat.
Kebuntuan perundingan AS–Iran dan rebound harga minyak kembali mendorong ekspektasi inflasi serta kenaikan suku bunga. Tekanan makroekonomi kini berpadu dengan meningkatnya keraguan internal terhadap sektor teknologi, menciptakan tekanan ganda bagi pasar. Ketidakpastian mengenai prospek pembukaan kembali Selat Hormuz tetap menjadi variabel utama yang menentukan arah pasar energi global.
Dalam jangka pendek, data CPI dan perkembangan perundingan AS–Iran diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menggerakkan sentimen pasar. Dalam jangka menengah hingga panjang, tekanan terhadap harga energi dan inflasi baru dapat benar-benar mereda apabila AS dan Iran berhasil mencapai kesepakatan yang dapat diimplementasikan serta menjamin kelancaran dan stabilitas pelayaran melalui Selat Hormuz. Untuk saat ini, premi risiko geopolitik masih berjalan beriringan dengan ketidakpastian kebijakan moneter. Oleh karena itu, investor perlu tetap waspada terhadap perkembangan selanjutnya.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.










