简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Sinyal Perundingan ASIran Bertolak Belakang, Harga Minyak dan Data Manufaktur AS Menjadi Fokus Pasar
Ikhtisar:Setelah Iran membantah adanya perundingan dengan Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengecam Teheran sebagai pihak yang “bermuka dua”, sembari menegaskan bahwa dialog tetap berlangsung. Ia juga me
Setelah Iran membantah adanya perundingan dengan Amerika Serikat, Presiden Donald Trump mengecam Teheran sebagai pihak yang “bermuka dua”, sembari menegaskan bahwa dialog tetap berlangsung. Ia juga memperkirakan Selat Hormuz akan kembali dibuka paling lambat pada hari Selasa.
Trump menyatakan bahwa perundingan dilakukan atas permintaan Iran dan menyebutnya sebagai kesempatan terakhir bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan. Tahap pertama difokuskan pada pembukaan kembali Selat Hormuz, sedangkan tahap kedua membahas denuklirisasi. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan pernah mengizinkan Iran mengenakan biaya transit bagi kapal yang melintasi selat tersebut. Trump juga memperingatkan bahwa apabila Iran gagal mencapai kesepakatan atau tidak “menyerah sepenuhnya”, blokade akan terus berlanjut. Di saat yang sama, ia menyerukan kepada perusahaan minyak untuk segera menurunkan harga minyak.
Sementara itu, Iran menyatakan bahwa pembahasan mengenai Selat Hormuz sedang dilakukan bersama Oman, serta menolak pembukaan jalur pelayaran non-Iran oleh Amerika Serikat di kawasan tersebut. Media Arab melaporkan bahwa Iran telah menolak proposal baru AS terkait pengelolaan Selat Hormuz, sedangkan media Amerika menyebut belum ada jadwal perundingan lanjutan antara kedua negara.
Departemen Keuangan Amerika Serikat diperkirakan akan mempertahankan panduan penerbitan obligasi pemerintah tanpa perubahan. Pemerintah masih akan mengandalkan penerbitan Treasury Bills (T-Bills) jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan pembiayaan guna menghindari kenaikan imbal hasil obligasi tenor panjang. Meskipun defisit fiskal yang semakin besar dan meningkatnya porsi utang jangka pendek menambah risiko, pertimbangan politik menjelang pemilu paruh waktu masih menjadi faktor dominan. Pelaku pasar menilai strategi penerbitan utang pada akhirnya tetap perlu disesuaikan, dengan tambahan pasokan obligasi kemungkinan akan lebih banyak terkonsentrasi pada tenor pendek di kurva imbal hasil.
Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, yang juga merupakan salah satu pejabat paling berpengaruh di Federal Reserve, menegaskan bahwa suku bunga saat ini berada pada “posisi yang tepat” untuk terus mendukung proses penurunan inflasi. Ia memperkirakan inflasi akan mulai mereda pada paruh kedua tahun ini dan melanjutkan tren penurunannya pada tahun depan. Williams juga menekankan bahwa ia akan memberikan perhatian besar terhadap perkembangan data inflasi inti dalam beberapa bulan mendatang.
Di sisi lain, ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat untuk bulan Juli secara mengejutkan naik menjadi 55,6, level tertinggi sejak Mei 2022, sekaligus menandai ekspansi selama tujuh bulan berturut-turut. Peningkatan terjadi pada tiga komponen utama, yaitu produksi, pesanan baru, dan lapangan kerja. Namun, data S&P Global Manufacturing PMI pada periode yang sama justru bertahan di level terendah dalam tiga bulan terakhir, sehingga menunjukkan perbedaan sinyal dengan survei ISM.
Perbedaan sinyal dalam proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kembali menegaskan masih rendahnya tingkat kepercayaan di antara kedua pihak. Optimisme yang disampaikan Trump berbanding terbalik dengan sikap Iran yang terus membantah adanya perundingan, sehingga prospek pembukaan kembali Selat Hormuz masih dipenuhi ketidakpastian. Arah pergerakan harga minyak dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada perkembangan nyata terkait kelancaran lalu lintas pelayaran di kawasan tersebut.
Di sisi lain, kuatnya data sektor manufaktur Amerika Serikat mencerminkan ketahanan ekonomi yang tetap solid, sementara optimisme Federal Reserve terhadap penurunan inflasi memberikan ruang yang lebih fleksibel bagi arah kebijakan moneter ke depan.
Dalam jangka pendek, volatilitas pasar diperkirakan akan dipengaruhi oleh kombinasi premi risiko geopolitik dan rilis data ekonomi. Untuk jangka menengah hingga panjang, stabilitas pasar energi global baru akan benar-benar tercapai apabila Amerika Serikat dan Iran berhasil mencapai kesepakatan yang dapat diimplementasikan serta menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Hingga saat itu, dinamika diplomatik dan fundamental ekonomi akan terus menjadi faktor utama yang memengaruhi sentimen pasar, sehingga investor disarankan untuk terus memantau perkembangan negosiasi maupun data ekonomi berikutnya.
Peringatan Risiko:
Seluruh opini, analisis, penelitian, informasi harga, maupun materi lainnya dalam artikel ini disajikan semata-mata sebagai komentar umum mengenai kondisi pasar dan tidak mencerminkan sikap resmi platform ini. Setiap investor bertanggung jawab penuh atas keputusan investasinya sendiri. Harap bertransaksi dengan bijak serta memperhatikan risiko yang ada.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.










