简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Trump Ancam Ambil Alih Selat dan Kenakan Biaya Transit, Harga Minyak Melonjak Tajam
Ikhtisar:【Gambar 1: Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran】Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran memburuk secara drastis setelah penandatanganan nota kesepahaman. Militer AS melancarkan serangkaian serangan uda
【Gambar 1: Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran】
Hubungan antara Amerika Serikat dan Iran memburuk secara drastis setelah penandatanganan nota kesepahaman. Militer AS melancarkan serangkaian serangan udara terhadap Iran, sementara Presiden Donald Trump mengancam akan memberikan “serangan besar malam ini atau besok”. Ia juga mengumumkan pemulihan blokade maritim terhadap Iran dan menyatakan bahwa Amerika Serikat berpotensi mengambil alih Selat Hormuz serta mengenakan biaya sebesar 20% terhadap pengiriman barang yang melintasi jalur tersebut.
Iran merespons dengan sikap tegas. Teheran memperingatkan bahwa jika konflik terus meluas, “api perang akan melahap seluruh negara di kawasan”, serta mengancam akan menutup Selat Hormuz. Militer AS menyatakan bahwa operasi militer tersebut merupakan respons atas serangan Iran terhadap kapal dagang, sementara Iran mengklaim telah menembak jatuh sebuah drone militer AS.
Trump juga menyampaikan bahwa peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran masih terbuka. Namun, ia menegaskan bahwa sekutu-sekutu AS di Timur Tengah harus membayar “biaya perlindungan”. Ia secara khusus menyebut Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dengan alasan bahwa Amerika Serikat telah menjaga keamanan kawasan sehingga negara-negara tersebut perlu ikut menanggung biaya yang timbul. Trump juga menekankan bahwa Amerika Serikat tidak lagi bergantung pada pasokan minyak dari Timur Tengah.
Peningkatan ketegangan geopolitik tersebut mendorong lonjakan harga energi. Harga minyak Brent sempat melonjak lebih dari 7% dalam perdagangan intraday, sementara harga minyak mentah WTI naik hampir 6%. Trump menyatakan bahwa kenaikan harga minyak “bukan masalah besar” karena pasar saat ini masih menghadapi kelebihan pasokan dan harga pada akhirnya akan kembali turun. Meski demikian, pelaku pasar mulai kembali memasukkan premi risiko gangguan pasokan ke dalam harga, seiring meningkatnya risiko terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Ekspor minyak Iran sebelumnya sempat pulih berkat pengecualian sanksi selama 60 hari. Namun, setelah Amerika Serikat mencabut kebijakan tersebut, prospek pasokan kembali menghadapi ketidakpastian. Di sisi lain, Uni Emirat Arab sedang merencanakan pembangunan pelabuhan baru di pesisir timurnya guna mengurangi ketergantungan terhadap jalur pelayaran Selat Hormuz dan memitigasi risiko gangguan transportasi energi.
Sementara itu, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan bahwa jika inflasi inti tetap berada pada level tinggi, The Fed mungkin perlu kembali menaikkan suku bunga. Pernyataan tersebut mendorong ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada bulan Juli menjadi sekitar 45%. Selain itu, Christopher Waller dijadwalkan menghadiri sidang dengar pendapat di Kongres, yang diperkirakan akan memberikan petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya. Dalam situasi konflik Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi, tekanan inflasi yang dihadapi The Fed kembali meningkat.
Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah mengguncang keseimbangan rapuh yang sebelumnya tercipta melalui kesepakatan sementara. Ancaman keras dari Trump dan respons tegas Iran menjadikan Selat Hormuz sebagai salah satu titik risiko terbesar bagi keamanan energi global. Lonjakan harga minyak dalam jangka pendek berpotensi memperburuk tekanan inflasi dunia serta memengaruhi ruang kebijakan The Fed dan prospek pertumbuhan ekonomi global.
Dalam jangka pendek, aktivitas militer yang terus berulang serta potensi gangguan pelayaran di Selat Hormuz diperkirakan akan menjadi faktor utama yang menggerakkan volatilitas pasar energi. Dalam jangka menengah hingga panjang, stabilitas kawasan hanya dapat tercapai apabila kedua pihak kembali ke meja perundingan, menyepakati gencatan senjata yang dapat dijalankan secara efektif, serta memastikan kelancaran lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Untuk saat ini, risiko geopolitik telah menjadi salah satu sumber ketidakpastian terbesar bagi perekonomian dan pasar keuangan global, sehingga investor perlu mencermati perkembangan situasi secara seksama.
Peringatan Risiko:
Pandangan, analisis, penelitian, harga, maupun informasi lainnya di atas disajikan semata-mata sebagai komentar pasar secara umum dan tidak mewakili posisi resmi platform ini. Setiap pengguna bertanggung jawab penuh atas keputusan investasinya sendiri dan seluruh risiko yang mungkin timbul. Harap bertransaksi dengan bijak dan mempertimbangkan risiko secara cermat.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
WikiFX Broker
TICKMILL
AVATRADE
FOREX.com
VT Markets
EBC FINANCIAL GROUP
FXTM
TICKMILL
AVATRADE
FOREX.com
VT Markets
EBC FINANCIAL GROUP
FXTM
