简体中文
繁體中文
English
Pусский
日本語
ภาษาไทย
Tiếng Việt
Bahasa Indonesia
Español
हिन्दी
Filippiiniläinen
Français
Deutsch
Português
Türkçe
한국어
العربية
اردو
Harga Minyak Turun Tajam Seiring Lonjakan Pasokan Setelah Selat Hormuz Kembali Dibuka
Ikhtisar: /【Gambar 1: Ilustrasi Amerika Serikat dan Iran】Setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), pasar minyak global dengan cepat beralih dari kekhawatiran terhadap g
Setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani Memorandum of Understanding (MoU), pasar minyak global dengan cepat beralih dari kekhawatiran terhadap gangguan pasokan menjadi kekhawatiran akan kelebihan pasokan.
Pekan ini, harga minyak Brent turun di bawah USD 75 per barel, kembali ke level terendah sejak pecahnya konflik Iran. Di Eropa maupun Asia, para pembeli kini dibanjiri penawaran minyak mentah, mencerminkan perubahan sentimen yang drastis dibandingkan aksi pembelian panik akibat kekhawatiran kelangkaan pasokan pada awal tahun.
Berdasarkan data Bloomberg dan International Energy Agency (IEA), bahkan sebelum perjanjian resmi ditandatangani, sejumlah besar minyak mentah telah memasuki pasar melalui armada pengiriman yang dikenal sebagai "dark fleet". Ekspor Uni Emirat Arab (UEA) telah pulih hingga sekitar 85% dari tingkat sebelum konflik, sementara Iran telah mengirim sekitar 30 juta barel minyak ke Asia menjelang dimulainya masa keringanan sanksi selama 60 hari. Perusahaan pelayaran Arab Saudi, Bahri, juga mempercepat pengiriman tanker minyak, sedangkan UEA baru saja melelang sekitar 60 juta barel minyak mentah. Selain itu, sedikitnya enam kapal tanker VLCC dengan total muatan sekitar 12 juta barel diperkirakan akan tiba di Eropa bulan depan.
Lonjakan pasokan tersebut mulai mengubah pola perdagangan minyak dunia. Kilang Dangote di Nigeria untuk pertama kalinya mengimpor minyak mentah dari UEA, sementara minyak Timur Tengah kini memasuki kondisi contango, yang mencerminkan melimpahnya pasokan jangka pendek. Daan Struyven, Head of Commodities Research di Goldman Sachs, menilai lemahnya permintaan di Asia telah menyebabkan harga minyak spot berada di bawah harga kontrak berjangka. Di sisi lain, diskon harga minyak mentah Angola melebar ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Analis June Goh dari Sparta Commodities memperkirakan persediaan minyak akan terus meningkat karena kilang-kilang di Asia telah mengamankan paso

kan hingga akhir Agustus.【Gambar 2: Grafik Minyak Mentah Timeframe 1 Jam (H1)】
Setelah sempat melonjak menembus USD 140 per barel pada puncak ketegangan geopolitik di bulan April, harga Brent Dated kini telah terkoreksi hampir 50%, kembali ke kisaran sebelum konflik dimulai.
Meski pasokan mulai membaik, sejumlah faktor masih memberikan dukungan terhadap harga minyak. Persediaan minyak mentah Amerika Serikat saat ini berada pada level terendah sejak 1984, sementara stok di pusat penyimpanan Cushing mendekati batas operasional minimum, sehingga tetap menjadi faktor penopang harga minyak di pasar AS.
Fokus pasar kini beralih pada mekanisme pengelolaan Selat Hormuz di masa mendatang. Presiden Donald Trump menolak seluruh usulan penerapan biaya pelayaran maupun biaya transit di selat tersebut dengan menyebutnya sebagai langkah yang "tidak dapat diterima". Menteri Luar Negeri Marco Rubio juga menegaskan bahwa tidak ada negara yang mendukung penerapan biaya bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Walaupun MoU saat ini tidak mencakup biaya transit selama masa negosiasi 60 hari, Iran telah mengusulkan penerapan biaya keamanan maritim serta biaya jasa pemanduan kapal setelah periode tersebut berakhir. Industri pelayaran memperingatkan bahwa apabila biaya transit menjadi kebijakan permanen, hal itu berpotensi menciptakan preseden baru bagi jalur pelayaran strategis lainnya di dunia.
Dibukanya kembali Selat Hormuz telah meredakan kekhawatiran jangka pendek terhadap pasokan minyak global, sekaligus berpotensi membantu menurunkan tekanan inflasi dunia dan memberikan ruang yang lebih besar bagi Federal Reserve (The Fed) dalam menentukan arah kebijakan moneternya. Namun demikian, rendahnya tingkat persediaan minyak, lemahnya permintaan di Asia, serta belum tercapainya kesepakatan final dalam negosiasi geopolitik menunjukkan bahwa volatilitas pasar minyak kemungkinan masih akan berlanjut.
Dalam jangka pendek, peningkatan pasokan dan penurunan harga minyak diperkirakan dapat memperbaiki sentimen terhadap aset-aset berisiko. Namun dalam jangka panjang, stabilitas pasar akan sangat bergantung pada kelancaran arus pelayaran melalui Selat Hormuz serta kemajuan nyata dari proses diplomasi yang masih berlangsung. Investor disarankan untuk terus mencermati perkembangan selama periode negosiasi 60 hari tersebut.
Pernyataan Penyangkalan Risiko
Seluruh pandangan, analisis, riset, harga, maupun informasi yang disampaikan di atas hanya bertujuan sebagai komentar umum mengenai kondisi pasar dan tidak mencerminkan pandangan resmi platform. Investor wajib melakukan penilaian risiko secara mandiri dan bertanggung jawab penuh atas setiap keputusan investasinya. Mohon bertransaksi secara bijaksana dan sesuai dengan profil risiko masing-masing.
Disclaimer:
Pandangan dalam artikel ini hanya mewakili pandangan pribadi penulis dan bukan merupakan saran investasi untuk platform ini. Platform ini tidak menjamin keakuratan, kelengkapan dan ketepatan waktu informasi artikel, juga tidak bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh penggunaan atau kepercayaan informasi artikel.
